Menu Lawskripsi

Terdapat 59 Tamu online

Chat dgn Lawskripsi

E-mail

PERAN DAN TANGGUNGJAWAB PERUSAHAAN EFEK SEBAGAI PERANTARA PEDAGANG EFEK DALAM TRANSAKSI JUAL BELI SURAT UTANG NEGARA OBLIGASI RITEL INDONESIA KAITANNYA DENGAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI INVESTOR DI PT. DANAREKSA (PERSERO)

 

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional merupakan agenda tahunan pemerintah yang mana  telah menjadi kewajiban pemerintah sebagai penyelenggara kegiatan Negara untuk merealisasikannya. Pembangunan nasional menjadi wajib sifatnya dikarenakan pembangunan nasional merupakan tolok ukur dari perkembangan Negara. Suatu Negara dapat diukur tingkat keberhasilannya dalam mensejahterakan masyarakatnya bila pembangunan nasional dapat terselenggara dengan baik, yaitu pembangunan nasional yang menyentuh semua bidang kehidupan masyarakat dan juga menjangkau seluruh lapisan masyarakat dimana saja, tidak terbentur oleh batas wilayah kota maupun desa. Dalam melaksanakan pembangunan nasional ini, pemerintah sudah pasti membutuhkan modal untuk pembiayaan atau pendanaannya. Dalam keadaan Negara kita yang sedang terpuruk dalam krisis moneter seperti saat ini, pendanaan atau pembiayaan pembangunan menjadi salah satu hambatan dalam mempercepat dan meratakan pembangunan nasional. Pemerintah yang dalam hal ini mengandalkan devisa Negara, pinjaman dari luar negeri, dan pajak sebagai modal untuk melakukan pembangunan nasional cukup terasa berat, maka dalam keadaan seperti ini diperlukan alternatif pembiayaan diluar sumber-sumber pembiayaan seperti yang tersebut sebelumnya.

1

 
Alternatif pembiayaan pembangunan tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat, dalam hal ini yaitu pendanaan yang berasal dari kegiatan yang bertujuan untuk menghimpuan uang dari masyarakat. Upaya untuk menghimpun dana dari masyarakat tersebut dapat dilakukan melalui lembaga-lembaga perekonomian yamg ada ditengah-tengah masyarakat, seperti lembaga perbankan, asuransi , dan pasar modal. Pasar modal sebagai salah satu alternatif pembiayaan pembangunan cukup memberikan andil yang lebih selain lembaga perbankan dan juga lembaga perasuransian. Hal ini disebabkan pasar modal dengan instrumen-instrumennya memberikan keunggulan yang lebih bagi masyarakat, sebagai contoh keunggulan yang diberikan pasar modal yaitu bagi para investor dengan berinvestasi melalui obligasi kini lebih mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi dan tingkat suku bunga yang menjanjikan dibandingkan dengan instrument perbankan yang berupa deposito. Dewasa ini perkembangan pasar modal sedang marak-maraknya diberbagai Negara, tidak terkecuali di Indonesia, walaupun angkanya tidak terlalu signifikan. Pasar modal sebagai tempat memperdagangkan efek memiliki beberapa instrumen pasar modal, yang berbentuk instrument keuangan jangka panjang baik dalam bentuk modal (equity) dan utang. Secara umum instrument di pasar modal dapat dibedakan atas beberapa kategori, yaitu instrument utang (obligasi), instrument penyertaan (saham), instrument efek lainnya, dan instrument derivatif. (Irsan Nasarudin & Indra Surya , 2004 : 182). Instrumen-instrumen tersebutlah yang menjadi objek dari pasar modal, dimana didalamnya akan melibatkan subyek atau pelaku pasar modal seperti emiten, perusahaan efek, manajer investasi, profesi penunjang pasar modal, investor, dan lain-lain. Instrumen pasar modal erat kaitannya dengan setiap pelaku pasar modal, terlebih kepada investor yang hendak menanamkan investasinya melalui pasar  modal. Investor dapat memilih instrument pasar modal jenis apa yang hendak dimanfaatkannya dalam rangka investasi, tentunya dengan melihat kekurangan dan keunggulan dari salah satu instrument pasar modal tersebut serta keadaan pasar pada saat tertentu  Salah satu dari instrumen efek yang tersedia dipasar modal adalah obligasi. Bagi pemilik dana, obligasi atau surat utang jangka menengah-panjang yang diterbitkan oleh suatu lembaga (pemerintah atau perusahaan swasta) dengan nilai nominal dan dalam waktu jatuh tempo tertentu merupakan salah satu instrument keuangan yang menarik. Obligasi dalam bidang keuangan dan ekonomi memiliki pengertian yaitu instrument utang yang berisi janji dari pihak yang mengeluarkan obligasi untuk membayar pemilik obligasi sejumlah nilai pinjaman beserta bunga. Obligasi sebagai salah satu sekuritas pendapatan tetap telah memberikan peranan yang cukup besar dalam perekonomian baik didunia maupun di Indonesia sendiri. Moorad Choudhry penulis buku Corporate Bond Market: Instrument and Application (2006) menyatakan bahwa nilai obligasi dunia sebesar Rp. 21.000.000.0000.000,- (dua puluh satu trilyun rupiah) pada akhir tahun 2004 (Adler H. Manurung, 2006 : 2). Obligasi sebagai salah satu instrument capital market yang cukup diminati oleh para investor selain reksadana, dan saham, memiliki segmentasi konsumen yang mana pada umumnya konsumen dari obligasi ini adalah para pemodal baik dalam negeri ataupun asing yang mampu membeli obligasi minimal Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah), dengan adanya hal ini terkesan bahwa obligasi tersebut hanyalah diperuntukkan bagi pemodal besar saja. Para investor yakin bahwa obligasi menjadi salah satu alternatif investasi yang hasilnya (keuntungannya) selalu lebih tinggi dari laba yang diperoleh dari instrument pasar uang, asuransi, dan deposito lainnya. Seiring dengan perkembangan waktu, obligasi kini tidak hanya dapat dibeli dan dinikmati oleh para pemodal besar saja. Pada pertengahan bulan juli tahun 2006 pemerintah me-launching Surat Utang Negara Obligasi Ritel Indonesia (SUN ORI), yang mana obligasi kini dapat diperoleh dengan mudah dan murahnya. Masyarakat dan para pemodal kini dapat membeli obligasi dengan modal skala Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) hingga Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) Kepemilikan SUN ORI pada pasar perdana hanya dapat diberikan kepada investor individu atau perseorangan. Pihak selain individu atau perseorangan wargaNegara  Indonesia dapat memiliki SUN ORI dengan membelinya di pasar sekunder. Tujuan dari penerbitan SUN ORI adalah untuk menyedot uang masyarakat dan menyalurkannya ke sektor-sektor ekonomi guna membiayai proyek-proyek yang menguntungkan Negara dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Hal ini tentu saja menjadi babak baru dalam penghimpunan dana dari masyarakat. Investor individu akan tertarik membeli obligasi atau Surat Utang Negara Ritel (SUN ORI) ini dengan alasan keuntungan dan bunga yang ditawarkan lebih tinggi dari bunga deposito, asuransi atau reksadana dan pasar modal. Beberapa keuntungan yang ditawarkan oleh SUN ORI, diantaranya adalah pertama, berinvestasi SUN ORI, merupakan salah satu cara berinvestasi dengan aman hal ini dikarenakan SUN ORI dijamin oleh pemerintah dan diatur dalam peraturan perundang-undangan, berikut pembayaran pokok dan kuponnya Kedua, kupon yang ditawarkan oleh SUN ORI menarik yakni dengan kisaran 12, 05 % pertahun, dimana bunga SUN ORI dibayar bulanan, bunganya kompetitif di atas rata-rata bunga deposito bank BUMN. Ketiga, nilai berinvestasi SUN ORI relatif ringan, dimana nilai investasi pokoknya mulai dari Rp 5 juta dan kelipatannya. Keempat, sifat dari SUN ORI yang likuid yaitu dapat dijual bila sewaktu-waktu membutuhkan uang.  Kelima, SUN ORI dapat dijadikan jaminan ke pihak ketiga atau bank, dan terkahir sifat dari perdagangan SUN ORI yang transparan ,yaitu proses pembelian dan penjualan yang mudah dan jelas. Selain itu, dalam hal ini beberapa investor individu bisa bekerjasama untuk menghimpun modal awal untuk membeli SUN ORI. Melihat keuntungan dan kelebihan berinvestasi dengan instrumen pasar modal SUN ORI, tidak dapat dipungkiri instrument yang satu ini menyedot perhatian para investor untuk berinvestasi melalui SUN ORI. Walaupun pada awalnya minat investor akan SUN ORI tidak sebesar minat masyarakat akan deposito dikarenakan tidak tersosialisasikannya dengan baik SUN ORI, namun pada akhirnya para investor datang berbondong-bondong ke tempat-tempat yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai agen penjualan SUN ORI. Investor sebagai salah satu subyek dalam pasar modal merupakan pihak yang sangat menentukan hidup atau matinya kegiatan pasar modal, oleh karena itu keberadaan investor merupakan sesuatu yang harus terperhatikan. Sebagaimana dikutip dari makalah Sofyan A Djalil, bahwasanya diantara tujuan dari hukum pasar modal adalah untuk menjamin terselenggaranya kegiatan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien, serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat. Perlindungan pemodal adalah salah satu pilar yang sangat penting, karena jika investor tidak mendapat perlindungan yang cukup memadai, maka mereka, terutama investor kecil, enggan untuk melakukan transaksi di bursa. Tanpa adanya jumlah investor yang cukup banyak maka kegiatan pasar akan lesu dan fungsi dari pasar modal tidak akan berkembang. Mengingat arti penting investor bagi kelangsungan pasar modal, maka dalam hal ini kepentingan investor harus dapat ternaungi melalui perlindungan hukum. Dengan adanya perlindungan yang dibangun terhadap investor ini akan memberikan suatu kepastian hukum bagi investor sehingga meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal, dan berdampak pada terciptanya pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien. Perlindungan terhadap investor diberikan melalui regulasi-regulasi yang diatur dalam hukum pasar modal. Perlindungan tersebut tidak hanya diberikan secara formil kepada investor melalui regulasi-regulasi yang ada, akan tetapi perlindungan tersebut juga diterapkan oleh pihak-pihak yang bersinggungan langsung dengan investor, dengan kata lain yaitu pelaku pasar modal lain selain investor. Salah satu pelaku pasar modal yang bersinggungan langsung dan terkait erat dengan investor adalah perusahaan efek. Perusahaan efek yang dalam kegiatannya dapat bertindak sebagai penjamin emisi efek, perantara pedagang efek, dan manajer investasi, memiliki peran dan tanggungjawab dalam hal memberikan kepastian hukum bagi investor yang memanfaatkan jasa perusahaan efek dalam kegiatan investasinya. Terkait dengan penerbitan SUN ORI seri 001,  perusahaan efek merupakan salah satu pelaku pasar  modal yang ditunjuk sebagai agen perantara perdagangan SUN ORI, selain lembaga perbankan. Berdasarkan data yang diperoleh dari BAPEPAM, ada 11 agen yang menjual Obligasi Ritel Indonesia, dimana delapan diantaranya adalah Bank dan 3 lainnya adalah lembaga sekuritas yang ditunjuk. Penunjukkan ini tidak sebatas penunjukkan yang bersifat subjektif, melainkan terdapat proses didalamnya. Para calon agen penjual yang mengajukan proposal kepada pemerintah untuk menajdi agen penjual SUN ORI, akan diseleksi terlebih dahulu, dilanjutkan dengan penetapan beberapa calon agen penjual yang berpotensi terpilih, lalu dari daftar beberapa calon yang berpotensi terpilih ini akan di sampaikan kepada Menteri Keuangan yang untuk selanjutnya akan menjadi kewenangan menteri keuangan untuk menetapkan agen penjual yang terpilih. Akhirnya setelah melewati proses penyeleksian yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku, maka terpilihlah kesebelas agen yang ditunjuk  sebagai agen penjual SUN ORI seri 001 atara lain adalah Bank Mandiri, Bank Bukopin, Bank Permata, Bank Mega, Citibank, Bank NISP, Bank Danamon, Bank Panin, PT. Danareksa (Persero), Trimegah Securities, dan Valbury Asia Securities. Makin maraknya lembaga sekuritas di Indonesia. Perusahaan efek atau lembaga sekuritas sebagai salah satu agen yang ditunjuk sebagai perantara perdagangan Obligasi Ritel Indonesia menjadi menarik untuk dikaji kaitannya dengan salah satu kegiatan dari Perusahaan Efek yang diatur dalam UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal yaitu sebagai perantara pedagang efek, dan wujud tanggungjawabyang diberikan oleh perusahaan efek kepada investor, khususnya terhadap investor SUN ORI. Tanggungjawab seperti apa yang diemban oleh perusahaan efek dalam menjalankan kegiatannya sebagai perantara pedagang SUN ORI dalam rangka menjamin kepastian hukum bagi investor SUN ORI. Mengingat Surat Utang Negara Obligasi Ritel Indonesia (SUN ORI) merupakan bentuk dari instrumen efek yang baru,dan dikeluarkan langsung oleh pemerintah, sudah pasti dalam proses penjulaan hingga penerbitannya diatur melalui peraturan perundang-undangan. Salah satu peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka mengatur perdagangan SUN ORI adalah Peraturan Menteri Keuangan No. 36/ PMK.06/ 2006 tentang penjualan obligasi Negara ritel di pasar perdana. Peraturan yang dikeluarkan oleh menteri keungan berisi segala yang berkaitan dengan penjualan SUN ORI dipasar perdana. PT. Danareksa (Persero) sebagai Perusahaan Efek yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai salah satu agen penjualan SUN ORI, karena telah dipercaya dan diakui masyarakat sebagai perusahaan efek yang prospektif dan menjanjikan dapat sekiranya dijadikan acuan dalam mendapatkan pengetahuan dan memahami mengenai peranan perusahaan efek dalam perdagangan Surat Utang Negara Obligasi Ritel Indonesia (SUN ORI) berikut mekanisme penjualan hingga penerbitan Surat Utang Negara Obligasi Ritel Indonesia (SUN ORI). Selain itu kinerja PT. Danareksa (Persero) juga dapat dijadikan acauan dalam mengetahui sejauhmana tanggungjawab yang diemban oleh perusahaan efek dan pelaksanaannya dalam memberikan perlindungan dan kepastian kepada investor SUN ORI, beserta hambatan yang dihadapi selama penjualan SUN ORI. Selama ini, kajian mengenai perusahaan efek masih sangat minim, padahal perusahaan efek merupakan salah satu pilar penyokong dari berdiri tegaknya suatu pasar modal. Penulis merasa tertantang untuk lebih mempelajari mengenai perusahaan efek, yang mana dikaitkan dengan penjualan efek pasar modal terbaru yaitu SUN ORI.

 

B. Perumusan Masalah

1.      Bagaimana mekanisme transaksi jual beli SUN ORI pada pasar perdana dan pasar sekunder di PT. Danareksa (Persero)?

2.      Bagaimana peran dan tanggungjawab PT. Danareksa (Persero) sebagai perantara pedagang efek berupa SUN ORI kaitannya dengan perlindungan hukum bagi investor, dan hambatan apa saja yang dialami oleh PT. Danareksa (Persero) dalam memperdagangkan SUN ORI?