Menu Lawskripsi

Terdapat 67 Tamu online

Chat dgn Lawskripsi

E-mail
TINJAUAN YURIDIS TENTANG PENERBITAN CEK ATAS PERHITUNGAN

A. Latar Belakang

Di dalam dunia perusahaan dan perdagangan, orang menginginkan segala sesuatunya bersifat praktis dan aman khususnya dalam lalu lintas pembayaran. Artinya, orang tidak mutlak lagi menggunakan alat pembayaran berupa uang, melainkan cukup dengan menerbitkan surat berharga baik sebagai alat pembayaran kontan maupun sebagai alat pembayaran kredit.

Praktis dalam setiap transaksi, para pihak tidak perlu membawa mata uang dalam jumlah besar sebagai alat pembayaran dalam suatu transaksi, melainkan cukup dengan membawa atau mengantongi surat berharga saja. Aman artinya tidak setiap orang yang tidak berhak dapat menggunakan surat berharga itu, karena pembayaran dengan surat berharga memerlukan cara-cara tertentu. Sedangkan jika menggunakan mata uang apalagi dalam jumlah besar banyak sekali kemungkinan timbulnya bahaya atau kerugian, misalnya pencurian, kebakaran atau perampokan, dan lain-lain.

Mengingat praktisnya penggunaan cek atau wesel sebagai alat pembayaran sudah semakin dirasakan, maka meluaslah pengenalan dan penggunaan berbagai bentuk surat berharga yang juga merupakan tanda bahwa masyarakat semakin mengenal peran penting dari surat-surat berharga. Pada dasarnya salah satu fungsi utama dari surat-surat berharga (termasuk wessel, cek, dan eksep, adalah untuk dapat diperdagangkan, untuk dapat dipindahtangankan dari satu tangan ke tangan yang lain. Faktor atau syarat yang menjadikan adanya fungsi dapat diperdagangkan itu ialah dengan adanya klausula-klausula pada surat itu yang bertujuan untuk memperalihkan kedudukan hukum dari orang yang berhak atas isi dari surat tersebut kepada orang lain. Dengan perkataan lain, klausula-klausula tersebut menyatakan bahwa sifat berbagai penagih dari pemegang surat itu dapat diperalihkan kepada orang lain dengan cara yang telah ditentukan oleh klausula-klausula itu sendiri.

Untuk menuju kepada pengertian surat berharga yang menjadi obyek pembicaraan, seperti yang diatur dalam KUH Dagang terlebih dahulu perlu dibedakan dua macam surat, yaitu :

1. Surat berharga, terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda “waarde papier” di negara anglo saxon di kenal dengan istilah “negatible instruments”.

2. Surat yang mempunyai harga atau nilai, terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda “papier van waarde” dalam bahasa Inggris “letter of value”.

Pengertian surat berharga adalah surat yang oleh penerbitnya sengaja diterbitkan sebagai pelaksanaan pemenuhan suatu prestasi, yang berupa pembayaran sejumlah uang. Tetapi pembayaran itu tidak dilakukan dengan menggunakan mata uang, melainkan dengan menggunakan alat bayar lain. Alat bayar itu berupa surat yang didalamnya mengandung suatu perintah kepada pihak ketiga, atau pernyataan sanggup untuk membayar sejumlah uang kepada pemegang surat itu.

Surat berharga itu mempunyai tiga fungsi utama, yaitu :

1. Sebagai alat pembayar (alat tukar uang)

2. Sebagai alat untuk memudahkan hak tagih (diperjualbelikan secara mudah dan sederhana).

3. Sebagai surat bukti hak tagih (surat legitimasi).

Sedangkan tujuan penerbitan surat berharga itu adalah sebagai pemenuhan prestasi berupa pembayaran sejumlah uang.

Pengertian surat yang mempunyai harga atau nilai adalah surat ini diterbitkan bukan sebagai pemenuhan prestasi berupa pembayaran sejumlah uang, melainkan sebagai bukti diri bagi pemegangnya sebagai yang berhak atas apa yang tersebut didalamnya. Surat ini juga tidak dapat diperjualbelikan karena tujuan pembayaran. Seorang kreditur yang menerima surat pengakauan hutang dari debiturnya, merupakan bukti bagi kreditur bahwa ia mempunyai piutang pada debitur. Tetapi debitur sekali lagi tidak menerbitkan surat itu untuk diperalihkan kepada orang lain, karena debitur tidak berkewajiban membayar hutangnya kepada orang lain selain dari kreditur itu sendiri. jika ternyata kemudian kreditur itu memperalihkan surat pengakuan hutang itu kepada orang lain, maka kreditur harus memberitahukan hal ini kepada debitur. Kewajiban memberitahukan semacam ini tidak terdapat pada surat berharga.

Adanya penolakan tersebut bisa juga dikarenakan adanya cacat pada surat berharga tersebut, yang di maksud dengan cacat pada surat berharga ialah “cacat karena tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh undang-undang, yaitu syarat-syarat formil ini membawa pengaruh pada soal sah atau tidaknya surat berharga itu”. Syarat-syarat formil untuk cek diatur dalam pasal 178 KUHD.

Termasuk cacat bentuk itu misalnya tidak ada tanda tangan penerbit, tidak ada tanggal atau kekurangan yang lain sehingga seorang bankir dapat menolak pembayaran suatu cek yang ditujukan padanya. Namun demikian ketentuan pasal 178 KUHD untuk surat cek mengatur upaya tangkisan yang dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1. Upaya tangkisan absolut (execption in rem)

2. Upaya tangkisan relatif (execption in personam)

Tangkisan absolut dapat digunakan terhadap ketidakcakapan penandatangan (penerbit) untuk melakukan perbuatan hukum. Hal ini menyangkut soal sahnya perjanjian yang menjadi dasar penerbitan surat berharga. Jika perikatan dasar tidak sah, akibatnya pembayaran dengan surat berharga itu juga tidak sah. Ketidakcakapan ini digolongkan juga pada cacat bentuk.

Upaya tangkisan relatif ini tidak dapat diketahui dari bentuk surat berharga itu, melainkan hanya dapat diketahui dari hubungan hukum yang terjadi antara penerbit dengan salah seorang endosan yang mendahului pemegang terakhir, khususnya dengan pemegang pertama, hubungan hukum mana lazim disebut dengan perilatan dasar. Ini bukanlah merupakan satu-satunya penyebab yang dapat membebaskan seorang bankir dari kewajiban membayar, karena bisa juga suatu cek yang walaupun memenuhi syarat formil namun dibubuhi tanda “untuk diperhitungkan” sehingga bank tidak dapat memberikan pembayarannya secara tunai karena terikat ketentuan undang-undang.

Dari berbagai jenis surat-surat berharga tersebut, penulis bahas salah satu bentuk surat berharga, yaitu : cek, sebagai obyek pembahasan dalam pembuatan skripsi ini. Dimana dalam hal ini salah satu jenis cek adalah cek atas perhitungan. Cek atas perhitungan merupakan cek yang dapat dibayar kepada tiap-tiap pemegang yang berhak pembayarannya, tidak dengan uang tunai tetapi dengan cara pemindahbukuan (overboeking) pada rekening pemegang. Cek perhitungan itu ditandai dengan tulisan miring lurus dari bawah ke atas yang berbunyi untuk diperhitungkan.

B. Perumusan Masalah

Dengan adanya berbagai masalah yang timbul dalam penerbitan cek atas pembawa semacam ini, penulis dalam penyusun skripsi berikut akan mengemukakan beberapa masalah, yaitu sebagai berikut :

a. Bagaimana bentuk pembayaran dalam cek atas perhitungan ?

b. Bagaimana bentuk penyelesaian terhadap penolakan cek atas perhitungan ?