Menu Lawskripsi

Terdapat 32 Tamu online

Chat dgn Lawskripsi

E-mail

TINJAUAN ATAS TINDAKAN ABORSI DENGAN DALIH INDIKASI MEDIS KARENA TERJADINYA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN INCEST

 

A. Latar Belakang

Membahas persoalan aborsi sudah bukan merupakan rahasia umum dan hal yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini dikarenakan aborsi yang terjadi dewasa ini sudah menjadi hal yang aktual dan peristiwanya dapat terjadi dimana-mana dan bisa saja dilakukan oleh berbagai kalangan, apakah hal itu dilakukan oleh remaja yang terlibat pergaulan bebas ataupun para orang dewasa yang tidak mau dibebani tanggung jawab dan tidak menginginkan kelahiran sang bayi ke dunia ini. Kelahiran anak yang seharusnya dianggap sebagai suatu anugerah yang tidak terhingga dari Allah SWT sebagai Sang Pencipta justru dianggap sebagai suatu beban yang kehadirannya tidak diinginkan. Ironis sekali, karena di satu sisi sekian banyak pasangan suami isteri yang mendambakan kehadiran seorang anak selama bertahun-tahun masa perkawinan, namun di sisi lain ada pasangan yang membuang anaknya bahkan janin yang masih dalam kandungan tanpa pertimbangan nurani kemanusiaan.

Dalam memandang bagaimana kedudukan hukum aborsi di Indonesia sangat perlu dilihat kembali apa yang menjadi tujuan dari perbuatan aborsi tersebut. Sejauh ini, persoalan aborsi pada umumnya dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai tindak pidana. Namun, dalam hukum positif di Indonesia, tindakan aborsi pada sejumlah kasus tertentu dapat dibenarkan apabila merupakan abortus provokatus medicialis. Sedangkan aborsi yang digeneralisasi menjadi suatu tindak pidana lebih dikenal sebagai abortus provokatus criminalis. Terlepas dari persoalan apakah pelaku aborsi melakukannya atas dasar pertimbangan kesehatan (abortus provokatus medicialis) atau memang melakukannya atas dasar alasan lain yang kadang kala tidak dapat diterima oleh akal sehat, seperti kehamilan yang tidak dikehendaki (hamil diluar nikah) atau takut melahirkan ataupun karena takut tidak mampu membesarkan anak karena minimnya kondisi perekonomian keluarga, tetap saja angka kematian akibat aborsi begitu mencengangkan dan sangat memprihatinkan. Data WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa 15-50% kematian ibu disebabkan oleh pengguguran kandungan yang tidak aman. Dari 20 juta pengguguran kandungan tidak aman yang dilakukan tiap tahun, ditemukan 70.000 perempuan meninggal dunia. Dengan kata lain, 1 dari 8 ibu meninggal dunia akibat aborsi yang tidak aman

Peningkatan jumlah pelaku aborsi dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring perkembangan zaman yang dibarenginya dengan gaya hidup bebas, tidak menutup kemungkinan untuk dilakukannya hubungan seks di luar nikah, tanpa mengetahui dampak yang akan ditimbulkan dari hubungan tersebut. Hubungan seks luar nikah tidak hanya dilakukan oleh pria dan wanita yang tidak mempunyai hubungan saudara, tidak menutup kemungkinan hubungan seks pra nikah dilakukan oleh mereka yang masih mempunyai hubungan saudara (incest). Salah satu akibat hubungan seks pra nikah adalah kehamilan.

Berbeda dengan kehamilan yang benar-benar dinantikan pasangan suami istri dalam suatu ikatan perkawinan dan tentunya sudah melalui pertimbangan-pertimbangan dari sudut ekonomi, sosial, kesehatan serta agama, kehamilan karena hubungan seks luar nikah merupakan kehamilan yang tidak dikehendaki atau diinginkan. Dan jika terjadi kehamilan dari hubungan seks luar nikah tersebut, para wanita cenderung memilih untuk melakukan aborsi. Begitu juga dengan hubungan seks luar nikah yang dilakukan pasangan yang masih ada hubungan saudara (incest), mereka tidak segan memilih jalan aborsi terhadap apa yang terlarang itu.

Hingga saat ini, pandangan masyarakat tentang aborsi masih bersifat mendua. Ada yang beranggapan menerima terhadap aborsi dan ada juga yang menolak terhadap aborsi. Sebagian masyarakat menerima aborsi karena terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki atau dengan alasan medis. Sedangkan sebagian masyarakat menolak aborsi dengan alasan moral, apalagi kaedah agama yang harus ditaati.

Terlepas dari adanya sikap penerimaan maupun sikap penolakan yang saling bertentangan tersebut, pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa wanita yang melakukan aborsi dengan datang ke dokter pribadi, klinik, maupun rumah sakit untuk meminta pelayanan aborsi masih sering kita dengar dengan jumlah yang besar.

Dalam hukum positif di Indonesia, pengaturan tindakan aborsi terdapat dalam dua undang-undang yaitu KUHP pasal 299, 346, 347, 348 dan 349 serta diatur dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 76,77,78. Terdapat perbedaan antara KUHP dengan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam mengatur masalah aborsi. KUHP dengan tegas melarang aborsi dengan alasan apapun, sedangkan UU Kesehatan membolehkan aborsi atas indikasi medis maupun karena adanya perkosaan. Akan  tetapi ketentuan aborsi dalam UU No. 36 Tahun 2009 tetap ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar misalnya kondisi kehamilan maksimal 6 bulan setelah hari pertama haid terakhir. Selain itu berdasarkan Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009, tindakan medis (aborsi), sebagai upaya untuk menyelamatkan ibu hamil dan atau janinnya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta pertimbangan tim ahli. Hal tersebut menunjukkan bahwa aborsi yang dilakukan bersifat legal atau dapat dibenarkan dan dilindungi secara hukum dan segala perbuatan yang di lakukan oleh tenaga kesehatan terhadap hak reproduksi perempuan bukan merupakan suatu tindak pidana atau kejahatan.

Berbeda dengan aborsi yang dilakukan tanpa adanya pertimbangan medis, aborsi tersebut dikatakan illegal serta tidak dapat dibenarkan secara hukum. Tindakan aborsi ini dikatakan sebagai tindak pidana atau tindak kejahatan karena KUHP mengkualifikasikan perbuatan aborsi tersebut sebagai kejahatan tehadap nyawa.

Contohnya kasus aborsi seperti kasus praktek aborsi yang terjadi di Pare pada tanggal 18 Mei 2008. Tindakan aborsi yang dilakukan oleh bidan Endang (40 tahun) tersebut mengakibatkan kematian pada Nofi (22 tahun) pasien aborsi yang datang bersama pacarnya bernama Santoso (36 tahun). Nofi mengalami pendarahan hebat setelah bidan Endang melakukan aborsi atas permintaannya dan juga Santoso. Nofi dan Santoso sendiri masih mempunyai hubungan saudara (incest) yaitu antara paman dan keponakannya.

Setelah tahu Nofi hamil, mereka sepakat untuk menggugurkan kandungan hasil hubungan incest diluar nikah tersebut. Alasan bidan Endang melakukan aborsi adalah karena kasihan melihat kondisi Nofi yang hamil tanpa nikah. Apalagi janin dalam kandungan Nofi adalah hasif dari hubungan seksual dengan pamannya.

Alasan seorang wanita untuk melakukan perbuatan aborsi sangat bermacam-macam, antara lain karena tidak ingin memiliki anak sebab khawatir mengganggu karir atau sekolah, tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak, tidak ingin memiliki anak tanpa ayah, sehingga wanita hamil tersebut memilih jalan aborsi atau menggugurkan kandungan.

Alasan yang lain adalah kehamilan tersebut merupakan hasil hubungan seks luar nikah yang mana pasangan tersebut masih mempunyai hubungan saudara (incest). Untuk menutupi aib keluarga dan perasaan malu pada diri sendiri, keluarga serta pandangan buruk dari masyarakat,mereka memilih untuk melakukan aborsi. Anak yang lahir dari hubungan terlarang (incest) tersebut kemungkinan akan jauh dari keadaan normal yang sempurna. Hal ini karena beberapa generasi dari hasil hubungan incest mengakibatkan kelahiran cacat genetik yang lebih besar. Oleh masyarakat, mendukung atau membiarkan reproduksi dari hubungan terlarang (incest) adalah buruk bagi masyarakat.

Jika melihat ketentuan pasal 75 ayat (2) huruf (a) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan bahwa aborsi dapat dilakukan atas indikasi medis. Oleh karena itu maka dapat ditarik suatu rumusan masalah yaitu :

 

B. Permasalahan

1.     Apakah terjadinya kehamilan akibat hubungan incest bisa dikatakan sebagai alasan indikasi medis?

2.  Bagaiamana Ketentuan Pidana Aborsi Menurut KUHP dan UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan?