Menu Lawskripsi

Terdapat 49 Tamu online

Chat dgn Lawskripsi

E-mail

PERBANDINGAN PENERAPAN SISTEM BAGI HASIL DALAM KEGIATAN PEMBIAYAAN ANTARA MODAL VENTURA DAN BANK SYARIAH

 

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan Nasional yang merupakan proses modernisasi, telah membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Perkembangan jaman yang semakin pesat sebagai akibat dari pembangunan nasional ternyata banyak memberikan pengaruh dalam tatanan kehidupan manusia. Seiring dengan kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia sebagai negara yang multikompleks dengan keanekaragaman suku, budaya, bahasa, dan agama berusaha mengejar dan mengimbangi ketertinggalan dalam mewujudkan tujuan melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pembangunan Nasional tersebut dapat terwujud apabila terdapat daya dukung dari masyarakat sebagai upaya pembangunan nasional dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya agar terwujud suatu tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur, sejahtera, dan pemerataan di setiap lini kehidupan baik materiil maupun spiritual. Dalam rangka mewujudkan berhasilnya pembangunan nasional dewasa ini, yang selalu dihadapkan pada permasalahan yang multikompleks, diperlukan suatu peran serta baik dari sektor pemerintah maupun swasta secara serasi dan berkesinambungan yang saling memiliki daya dukung dalam memecahkan permasalahan yang terkait dalam bidang ekonomi dan pembangunan, sehingga apa yang dicita-citakan masyarakat Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 tercapai dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Salah satu upaya untuk mencapai masyarakat adil dan makmur , berbagai cara dapat ditempuh antara lain dengan cara mendirikan suatu lembaga keuangan yang mengatur tatanan sistem ekonomi yang menunjang pelaksanaan tujuan pembangunan nasional. Lembaga keuangan tersebut dapat berbentuk Lembaga Keuangan Bank atau untuk selanjutnya disebut Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) atau banyak di kenal dengan istilah Lembaga Pembiayaan. Bank merupakan atau suatu badan usaha yang bergerak dalam bidang pengelolaan keuangan, pendanaan, dan investasi bagi perusahaan, lembaga pemerintah, swasta, maupun perorangan yang menyimpan dananya di Bank tersebut. Untuk melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. Perbankan di Indonesia bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan dan meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kea rah peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Perkembangan dunia perbankan dewasa ini telah terlihat kompleks dengan berbagai macam jenis produk dan sistem usaha dalam berbagai keunggulan. Kekomplekan ini telah menciptakan suatu sistem dan persaingan baru dalam dunia perbankan bukan hanya persaingan antar bank, namun antara bank dengan lembaga keuangan. Sebuah fenomena yang kini dihadapi oleh bank konvensional (Bank Umum) yang selama ini dipercaya masyarakat dalam menjalankan usahanya akan menghadapi persaingan baru dengan kehadiran Lembaga Keuangan Bukan Bank ataupun Bank Non-Konvensional dalam penyaluran dana. Hal tersebut ditandai dengan pertumbuhan Lembaga Keuangan Bukan Bank  atau Lembaga Pembiayaan dan bank-bank yang menjalankan usaha atau sistem manajemen dengan Prinsip Syariah atau lebih di kenal dengan Bank Syariah, Bank Muamalat, atau Bank Islam. Suatu hal yang sangat menarik dan membedakan antara Bank Umum dengan menejemen Bank Muamalat atau Bank Syariah adalah terletak pada pemberian balas jasa dalam pembiayaan, baik yang diterima Bank maupun para investor atau nasabah atau debitur. Pada Bank Umum, pembiayaan di sebut loan, sementara di Bank Syariah disebut Financing. Sementara itu balas jasa yang diberikan dan diterima Bank Umum berupa Bunga (Interest Loan atau Deposit) dalam bentuk pasti. Lain halnya pada Bank Syariah, hanya memberi dan menerima balas jasa berdasarkan perjanjian (akad) bagi hasil. Hal tersebut yang membedakan antara prinsip kegiatan yang dilakukan Bank Umum, namun dalam hal kegiatan usaha Bank Syariah yang meliputi kegiatan pokok yaitu kegiatan penghimpunan dari masyarakat, penyaluran dana kepada masyarakat, penawaran produk dan jasa serta pengelola usaha (manajemen intern), memiliki persamaan dengan kegiatan usaha yang dilakukan dengan Banku umum. Bank syariah merupakan badan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan untuk memobilisasi dana masyarakat dan memberikan pelayanan jasa perbankan lainnya berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Di Indonesia keberadaan bank syariah sudah ada sejak pertengahan tahun 1992, setelah disahkannya Undang-Undang No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang kemudian dirubah menjadi Undang-Undang No 10 Tahun 1998 sebagai dasar hukum Bank Syariah  dalam menjalankan usahanya. Berbicara pada sistem bagi hasil pada manajemen kredit bank syariah dalam menjalankan kegiatan pembiayaan, mengingatkan pada sebuah lembaga pembiayaan yang menjalankan usahanya dengan pola atau sistem bagi hasil pula. Lembaga pembiayaan tersebut adalah Modal Ventura. Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu Perusahaan Pasangan Usaha (PPU atau Invectee Company). Perusahaan Modal Ventura adalah suatu perusahaan yang membantu memberikan permodalan maupun bantuan teknis kepada nasbah atau disebut sebagai Perusahaan Pasangan Usaha. Perusahaan Modal Ventura merupakan lembaga pembiayaan alternatif selain bank, dalam mengajukan permohonan pinjaman oleh suatu pelaku usaha yang ingin mengembangkan usahanya, namun dalam satu atau lain hal pemohon belum dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan Bank.  Persyaratan Bank yang harus dipenuhi pelaku usaha dalam permohonan pinjaman untuk menjaga kualitas kredit menjadi sehat atau disebut Performing Loan. Bank sebagai pemberi kredit kepada pemohon harus melakukan analisis yang cukup mendalam dan ketat dari berbagi aspek. Bentuk analisis kelayakan usaha yang diterapkan bank dalam permohonan kredit dengan metode 5 C (five C) yaitu, Character (karakter pribadi atau watak), Capacity (kapasitas), Capital (modal), Condition Of Economic (kondisi perekonomian), dan Collateral (jaminan). Bank juga mensyaratkan usaha yang sudah dijalankan sudah berjalan selama periode tertentu. Hal tersebut yang menyulitkan pelaku usaha khususnya pengusaha kecil yang ingin mengembangkan usahanya namun terbentur pada modal dan rumitnya prosedur pembiayaan yang diberikan bank disamping tingginya bunga, sehingga solusi alternatif yang dilakukan pelaku usaha baru adalah dengan mengajukan permohonan proposal pendanaan kepada salah satu lembaga pembiayaan yaitu Perusahaan Modal Ventura yang dapat membantu permodalan seperti yang dilakukan Bank. Mengacu pada Keputusan Menteri Keuangan No 1251 Tahun 1988, Perusahaan Modal Ventura dapat membantu permodalan maupun bantuan teknis yang diperlukan calon pengusaha maupun usaha yang sudah berjalan guna pengembangan perusahaan pada tahap awal usahanya mengalami kesulitan dana. Bentuk nyata partisipasi dan dukungan Perusahaan Modal Ventura dalam pengembangan usaha adalah melalui penyertaan modal, obligasi konversi, dan pola bagi hasil. Pola bagi hasil dalam Modal Ventura dapat ditemukan juga dalam manajemen Bank Syariah yang juga menjalankan usahanya dengan sistem bagi hasil khususnya pada kegiatan pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah. Berdasarkan persamaan penggunaan prinsip bagi hasil antara Perusahaan Modal Ventura dan Bank Syariah dalam pelaksanaan pembiayaan menarik perhatian untuk mengetahui penerapan prinsip bagi hasil pada masing-masing lembaga keuangan tersebut. Dengan membandingkan penerapan bagi hasil antara bank syariah dan modal ventura diharapkan akan mengetahui keunggulan masin-masing.  Bank Syariah dengan Modal Ventura, memiliki kemiripan dalam penentuan bagi hasil dan perolehan balas jasa berdasarkan keuntungan dari usaha yang telah di biayai sesuai dengan kesepakatan bersama dalam perjanjian pembiayaan. Kemiripan yang lain adalah tidak adanya unsur bunga dalam pembiayaan. Perbedaan yang dapat dilihat adalah segala sesuatu yang dilakukan pada Bank Syariah mendasarkan pada ketentuan-ketentuan yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al- Hadist, lain halnya dengan Modal Ventura yang mendasarkan kegiatannya pada Hukum Perdata dan peraturan pelaksana lainnya tentang Lembaga Pembiayaan. Perbedaan dapat juga ditinjau dari aspek legalitas yang menyangkut perjanjiannya dan jaminan. Berdasarkan uraian diatas diharapkan Perusahaan Modal Ventura dan Bank Syariah, dapat menjadi solusi alternatif  menjadi pilihan masyarakat pada umumnya dan pelaku usaha pada khususnya yang ingin mengembangkan usahanya dengan pemerataan keuntungan yang menciptakan keadilan karena adanya keterbukaan pada awal terjadinya suatu kesepakatan. Pelaku usaha dan masyarakat perlu mendapat pengetahuan baru bahwa kedua lembaga keuangan diatas merupakan tempat menyelesaikan suatu permasalahan pendanaan yang pada mulanya hanya dilakukan oleh bank konvensional. Berdasarkan apa yang telah di paparkan diatas, dapat dilihat bahwa pembiayaan yang dilakukan Bank Syariah dan Modal Ventura dapat dilakukan perbandingan atas dasar kesamaan pada pola bagi hasilnya. Berdasarkan permasalahan tersebut dapat diteliti dan dikaji mengenai perbandingan pola pembiayaan  kedua lembaga keuangan tersebut yang nantinya dapat ditinjau secara garis besarnya pada penerapan sistem bagi hasilnya, aspek legalitas pada perjanjian pembiayaanya serta pada keberadaan jaminan dalam pembiayaan..  Dalam setiap kegiatan pembiayaan tidak selamanya berjalan sesuai dengan perjanjian sehingga dapat menimbulkan wanprestasi pada salah satu pihak, sehingga dalam penulisan hukum ini juga  diuraikan   langkah-langkah hukum yang dapat dilakukan oleh Perusahaan Modal Ventura dan Bank Syariah apabila  menghadapi debitur atau pemohon pembiayaan wanprestasi.

 

B. Perumusan Masalah

1.   Bagaimanakah perbandingan  antara Perusahaan Modal Ventura dan Bank Syariah dalam kegiatan pembiayaan di tinjau dari penerapan bagi hasil, aspek legalitas perjanjian pembiayaan dan jaminan pembiayaan?

2.  Bagaimanakah langkah hukum yang diambil oleh Perusahaan Modal Ventura dan Bank Syariah menghadapi debitur wanprestasi ?