Menu Lawskripsi

Terdapat 20 Tamu online

Chat dgn Lawskripsi

E-mail

PERANAN ILMU FORENSIK DALAM USAHA UNTUK MEMECAHKAN KASUS-KASUS KRIMINALITAS (DITINJAU DARI SEGI ILMU HUKUM PIDANA)

 

A.      Latar Belakang Masalah

Dunia sekarang ini terasa semakin sempit saja, hal ini disebabkan dengan adanya berbagai kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan transportasi, bahkan istilah “ buku adalah jendela dunia “ rasa-rasanya sudah tidak tepat untuk dipakai di masa sekarang ini, karena buku bukanlah satu-satunya lagi sumber pengetahuan kita untuk mengetahui isi dunia ini. Berbagai kemajuan teknologi yang ada telah memunculkan berbagai macam piranti (baik lunak maupun keras) pengganti buku, seperti internet, televisi, radio, telepon dan masih banyak lagi. Selain kemajuan di bidang teknologi, kemajuan di bidang hubungan  internasional negara-negara yang ada di dunia ini juga menjadikan dunia ini terasa semakin sempit. Semangat persatuan dari negara-negara yang merasa senasib ataupun setujuan menjadikan munculnya berbagai kelompok negara-negara yang mencoba untuk meningkatkan kemampuan negara mereka di berbagai bidang dengan berusaha menghilangkan ataupun mengabaikan sekat-sekat yang dulunya telah ada diantara para anggotanya, sehingga dapat kita temui fenomena–fenomena semacam Asian Free Trade Area (area perdagangan bebas asia), Masyarakat  Ekonomi Eropa, Uni Eropa (persatuan negara-negara eropa), World Trade Organization (organisasi perdagangan dunia) dan masih banyak lagi organisasi-organisasi lain baik yang bersifat bilateral maupun multilateral dengan berbagai dasar dan tujuan yang berbeda-beda di dunia ini. Hal diatas masih ditambah dengan adanya beberapa negara adi kuasa yang dengan kapitalismenya berusaha untuk semakin memperkokoh dan memperluas kekuasaannya, yang tentu saja dengan semakin kokoh dan berkuasanya dia maka keuntungan yang bisa diperoleh negara tersebut akan semakin besar. Dengan adanya berbagai kondisi diatas maka muncullah suatu keadaan dimana dunia yang besar dan terdiri bermacam negara, suku, bangsa, adat, dan bahasa ini seakan telah menjadi satu atau yang sering disebut dengan istilah globalisasi. Adanya globalisasi tak bisa dipungkiri memiliki berbagai macam dampak bagi tiap negara dan individu, baik itu dampak yang bersifat positif  maupun negatif. Dampak positif akan di dapat oleh pihak-pihak yang dapat beradaptasi dengan adanya globalisasi, sedangkan pihak yang tidak dapat beradaptasi hanya akan mendapat dampak-dampak negatif dan akan semakin terlindas dengan globalisasi yang semakin maju. Berbicara mengenai globalisasi, globalisasi juga sangat berpengaruh bagi negara kita Indonesia tercinta, baik itu pengaruh yang positif maupun yang negatif. Untuk pengaruh negatifnya dapat kita lihat masuknya unsur-unsur asing yang mana sangat bertentangan dengan norma, adat, faham, dan budaya ketimuran seperti free sex, hedonisme, kapitalisme, dan lain lain. Kemudian negara yang lemah harus tunduk pada negara yang kuat kalau tidak ingin ditindas (kolonialisme gaya baru), munculnya kaum-kaum pinggiran karena tersingkirkan oleh pembangunan dan perkembangan jaman, dan sebagainya. Sedangkan untuk pengaruh positif dapat kita lihat pada semakin cepatnya perkembangan di segala bidang dikarenakan mengikuti arus globalisasi yang ada. Munculnya golongan–golongan terpelajar dan profesional, berkembangya pola berpikir global, dan yang paling utama adalah pembangunan di segala bidang yang berkembang secara pesat, sehingga mau tidak mau masyarakat harus ikut berkembang mengikuti perkembangan yang ada. Pembangunan di negara Indonesia ini termasuk berhasil, tetapi tidak merata, karena yang diutamakan adalah pembangunan-pembangunan di kota besar ataupun daerah yang dianggap potensial, dan daerah sekitar yang dapat turut mengembangkan kota besar atau daerah tersebut. Hal ini menyebabkan munculnya daerah-daerah tertinggal karena daerah tersebut kurang diperhatikan oleh pemerintah sehingga terjadilah ketimpangan antar daerah. Dengan adanya ketimpangan ini memunculkan anggapan di masyarakat daerah tertinggal bahwa kalau ingin maju atau berubah harus ke kota besar. Maka muncullah masalah baru bagi kota besar ataupun daerah yang lebih maju mengenai masalah kependudukan, yaitu urbanisasi atau pindahnya masyarakat dari desa ke kota dengan tujuan untuk merubah nasib mereka. Tetapi sangat disayangkan perpindahan mereka dari desa ke kota tidaklah disertai dengan kemampuan yang memadai untuk bekerja dan hidup di kota, sehingga kedatangan mereka hanya menambah panjang daftar pengangguran di kota, serta menambah jumlah penduduk di kota yang sudah sangat padat. Jumlah penduduk yang sangat padat ditambah dengan jumlah pengangguran yang sangat banyak, sulitnya mencari pekerjaan serta persaingan yang sangat tajam dan ketat merupakan suatu kombinasi yang tepat dalam menciptakan kondisi yang memunculkan potensi kejahatan yang kemudian akan menjadi tindak kejahatan atau kriminalitas. Dengan munculnya kriminalitas maka bertambahlah masalah yang harus dihadapi. Kriminalitas adalah tindakan melawan hukum yang nampaknya di masyarakat kita sekarang ini sudah menjadi suatu hal yang tidak ditabukan lagi dan biasa, hal ini dapat kita lihat dengan makin banyaknya berita-berita tentang kriminalitas di berbagai media, bahkan sampai membuat media-media tersebut memberikan tempat tersendiri terhadap berita-berita tentang kriminalitas. Ini merupakan suatu hal yang sangat meresahkan, bahkan sekarang ini kriminalitas seolah-olah telah menjadi sebuah subculture  atau salah satu bagian tersendiri dari budaya dalam masayarakat moderen (bukan lagi hanya sebuah penyimpangan pranata sosial belaka). Kenapa peneliti menganggap kriminalitas telah menjadi sebuah subculture tersendiri, sebelumnya marilah kita melihat dulu ke arti dasar dari budaya. Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan dari kata kebudayaan, yang berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal (Koentjaraningrat, 1990:181). Budaya atau kebudayaan dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan kata cultuur, sedangkan dalam bahasa Inggris kita kenal dengan culture yang oleh beberapa ahli diartikan menjadi segala daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam, dalam perkembangannya maka muncullah subculture-subculture atau bagian-bagian dari culture atau budaya yang utama. Subculture muncul karena ketidakpuasan masyarakat terhadap culture atau budaya yang utama, baik itu ketidakpuasan yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Hal inilah yang mendasari mengapa peneliti menganggap bahwa kriminalitas telah menjadi subculture tersendiri dalam masyarakat moderen ini bukan lagi sekedar penyimpangan pranata sosial, sedangkan proses dari kriminalitas yang hanya sebagai penyimpangan pranata sosial hingga menjadi sebuah subculture dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam suatu kebudayaan terdapat orang-orang yang menyimpang, pada perkembangannya merekapun kemudian berkumpul untuk tujuan ganda, yaitu saling membantu dan memberikan suasana, tempat mereka dapat melakukan penyimpangan, sehingga terbentuklah suatu subkebudayaan tetapi bersifat menyimpang atau istilah asingnya deviant subculture. Deviant subculture ini memisahkan diri dari aturan-aturan, nilai, bahasa, dan istilah-istilah yang berlaku secara umum dalam kebudayaan yang dominan. Inilah yang dilakukan oleh sebagian besar individu yang ditolak oleh masyarakat, mereka langsung mencari persahabatan dalam subkebudayaan menyimpang, mereka memulai proses sosialisasi agar dapat memahami aturan-aturan perilaku yang diterima dan memperkirakan peranan yang tepat buat mereka, sehingga muncullah kelompok-kelompok deviant subculture atau subkebudayaan menyimpang yang antara lain sebagai berikut ;

1.           Kelompok penjudi

2.           Kelompok pelacur

3.           Kelompok pemakai obat-obatan terlarang

4.           Kelompok kejahatan

5.           dan lain lain.

Ini merupakan sebuah perubahan kondisi sosial akibat negatif dari pembangunan yang tidak tepat sasaran dan sangat meresahkan, karena kriminalitas di dalam masyarakat sekarang ini bukan lagi merupakan sesuatu yang dirahasiakan lagi, melainkan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat moderen, bahkan para pelaku kriminalitas sekarang ini tidak lagi malu akan perbuatan yang telah mereka lakukan, tetapi malah bangga dengan apa yang telah mereka lakukan, dengan anggapan sebagian dari mereka “bahwa ini adalah lahan pekerjaan baru di tengah persaingan pencarian pekerjaan yang sangat ketat di jaman moderen ini“. Hal ini juga yang akhirnya mendasari para pelaku kriminal menjadikan perbuatan mereka lebih profesional dengan berbagai cara, bahkan merekapun mendirikan organisasi-organisasi untuk mewadahi atau memperlancar aktifitas mereka, walaupun tidak semua tindakan kriminal bertendensi atau bermotif ekonomi atau mencari untung, ada juga yang bermotif dendam, nafsu, dan bahkan ada pula yang hanya bermotif iseng belaka. Tindak kriminal di jaman moderen ini sudah sangat bervariasi, berbeda dengan jaman dahulu yang hanya mengenal tindak kriminal hanya sebatas pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan tindakan-tindakan lain yang sejenis, tetapi di jaman moderen ini tindak kriminal juga menjadi sangat beragam, mulai dari tindak-tindak kriminal umum semacam contoh di atas, hingga muncul juga tindak-tindak kriminal jenis baru seperti pemalsuan uang, pemalsuan surat-surat penting, kejahatan-kejahatan dalam dunia maya atau lebih dikenal dengan istilah cyber crime, dan masih banyak lagi. Hal ini berakibat semakin sulitnya kasus-kasus tentang kriminal yang ada untuk dipecahkan karena selain kasus yang ada semakin banyak, kasus-kasus tersebut juga berkaitan dengan kemajuan teknologi yang ada. Untuk itulah diperlukan adanya penanggulangan terhadap kejahatan atau kriminalitas, sehingga hal-hal seperti yang telah disebutkan diatas tidak perlu terjadi. Tentu saja untuk melakukan penanggulangan diperlukan berbagai sarana dan prasarana ditambah dengan ilmu pengetahuan yang menunjang penanggulangan terjadinya tindak kejahatan. Dalam bidang sarana dan prasarana penanggulangan kejahatan dapat disebutkan antara lain pihak kepolisian, adanya siskamling (sistem keamanan lingkungan), pembentukan hansip (pertahanan sipil) atau linmas (perlindungan masyarakat), adanya pos ronda, serta sarana dan prasarana yang lain. Sedangkan dari segi ilmu pengetahuan terdapat beberapa ilmu penunjang untuk menanggulangi adanya tindak kejahatan, antara lain kriminologi (mempelajari proses terjadinya kejahatan di masyarakat), kriminalistik (mempelajari berbagai macam tindak kejahatan), ilmu pengetahuan agama (untuk mencegah manusia berbuat jahat), pendidikan moral, dan lain sebagainya. Pencegahan ataupun penanggulangan saja tidaklah cukup, dibutuhkan juga hal-hal untuk menghadapi kejahatan yang telah terjadi, karena jika telah terjadi kita tidak bisa mencegah lagi, melainkan harus mengusutnya hingga tuntas, untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan seperti ilmu hukum pidana (untuk menghadapi atau menentukan hukuman tindak kejahatan yang telah terjadi) ilmu hukum acara pidana (mengatur tata cara penyelesaian kasus pidana), dan ilmu forensik (untuk membantu mempermudah pengungkapan suatu kasus kejahatan). Jika dilihat secara sekilas, nampaknya ilmu forensik memiliki peranan yang penting dalam pengungkapan sebuah tindak kejahatan yang telah terjadi, terutama terhadap kasus-kasus yang sulit dipecahkan atau membutuhkan teknik khusus dalam pengungkapannya. Hal ini karena ilmu forensik memang diciptakan untuk mempermudah proses peradilan terutama dalam hal pembuktian, yang mana ilmu forensik sendiri terdiri dari berbagai macam ilmu pengetahuan seperti pathologi dan biologi, toksikologi, kriminalistik, kedokteran forensik, antropologi, jurisprudensi, psikologi dan masih banyak lagi, sehingga orang sering menyebut ilmu forensik sebagai ilmu dewa, karena dengan ilmu forensik kita dapat mengetahui berbagai macam hal yang sebelumnya tidak kita ketahui (William G. Eckert, 1980: 2). Dilihat dari hal-hal yang telah dibahas di atas sebenarnya seberapa pentingkah arti dari ilmu forensik hingga kita terutama pihak peradilan sangat membutuhkannya? Ilmu forensik amatlah penting bagi peradilan, terutama pihak kepolisian karena untuk membantu memecahkan kasus atau tindak kejahatan yang terjadi, terutama kasus-kasus yang sulit untuk menentukan tersangkanya ataupun pembuktiannya, contoh peranan dari ilmu forensik dapat kita lihat pada kasus bom Bali, dalam kasus seperti bom Bali kita tidak akan dapat menemukan tersangka yang sekarang ini tanpa adanya bantuan dari ilmu forensik, dengan adanya ilmu forensik maka akhirnya dapat diketahui siapa para tersangka yang terlibat, para tersangka tersebut dapat diketahui setelah dilakukan penelitian terhadap bukti-bukti atau petunjuk yang ada seperti nomor rangka dan mobil apa yang digunakan untuk pengeboman, bahan apa saja yang digunakan untuk membuat bom tersebut, sidik jari siapa yang tertinggal pada barang bukti yang ada, menganalisa potongan tubuh yang ada untuk menentukan identitas aslinya melaui uji deoxyribonucleic acid (DNA), dan masih banyak lagi hal-hal yang lain, tetapi sayangnya hal-hal luar biasa tersebut tidak murni dilakukan oleh pihak kepolisian Indonesia karena kita dibantu oleh kepolisian-kepolisian luar negeri, terutama dari kepolisian Australia, hal ini disebabkan masih sangat tertinggalnya ilmu pengetahuan forensik di negara kita baik dari segi ilmu maupun teknologi yang ada. Kasus bom Bali hanyalah salah satu contoh dari kegunaan ilmu forensik, masih banyak kasus-kasus lain yang dipecahkan oleh ilmu forensik. Dari sinilah dapat kita lihat arti pentingnya ilmu forensik. Dari hal-hal di atas dapat kita lihat bahwa sebenarnya ilmu forensik adalah ilmu pengetahuan yang amat vital dan penting terutama dalam hal penegakan hukum, karena tanpa adanya ilmu pengetahuan forensik maka penegakan hukum akan berjalan lambat sebagai akibat dari banyaknya kasus kejahatan yang tak terpecahkan. Tetapi sepertinya hal ini kurang disadari oleh masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari sedikitnya bahan-bahan pengetahuan tentang ilmu pengetahuan forensik berbahasa Indonesia yang khusus diterbitkan untuk khalayak umum, buku-buku yang ada masih dikhususkan untuk para akademisi dan para praktisi di bidang ini, selain itu masih ditambah pengetahuan masyarakat yang masih sempit terhadap arti dari ilmu pengetahuan forensik itu sendiri, mereka menganggap ilmu pengetahuan forensik hanya sebatas pemeriksaan mayat untuk mengetahui sebab-sebab kematiannya.

 

B.      Perumusan Masalah

1.      Apakah fungsi ilmu forensik itu ?

2.      Bagaimanakah peranan ilmu forensik dalam usaha untuk memecahkan kasus-kasus kriminalitas ?