Menu Lawskripsi

Terdapat 47 Tamu online

Chat dgn Lawskripsi

E-mail

PERTANGGUNGJAWABAN PEMILIK SENJATA API LEGAL
YANG DISALAHGUNAKAN OLEH ORANG LAIN

A. Latar Belakang

Dalam beberapa tahun terakhir ini, terkesan dan terasakan bahwa masyarakat dengan mudah memiliki senjata api dengan berbagai merek dan jenisnya. Orang yang memiliki uang dengan mudah bisa mendapatkan, mengoleksi, bahkan dalam jumlah yang tidak wajar. Mudahnya orang mendapatkan senjata api itu tentulah karena memang pasarnya sudah berubah. Paling tidak, jauh berbeda bila dibandingkan pada 1980-an lalu. Jika dulu orang sudah begitu berbangga menyimpan senapan FN, kini tidaklah demikian. M-16 yang biasa dipakai di medan peperangan oleh para prajurit, kini sudah masuk ruang eksklusif para kolektor senjata. Senjata api menjadi salah satu simbol kebanggaan baru yang dalam beberapa tahun menunjukkan tren meningkat.

Keinginan untuk mengoleksi senjata api dalam berbagai jenis, tentu memiliki bermacam latar belakang. Bisa saja awalnya adalah untuk pengamanan diri, jika sewaktu-waktu berhadapan dengan hal yang mengancam jiwanya. Sebut saja kepemilikan itu untuk mempertahankan diri. Tetapi juga tak bisa dipungkiri bahwa kepemilikan tersebut juga berlatar belakang pemuasan diri, karena merasa dirinya sanggup mengoleksi barang eksklusif di mana tidak semua orang bisa mendapatkannya. Orang yang bangga dirinya secara berlebihan akan terpuaskan dengan mengoleksi barang-barang seperti itu.

Sementara itu, di sisi lain pasar senjata api baik yang gelap, maupun yang terang-terangan terus meluas. Maka, transaksi pun akan berlangsung lebih mudah. Banyak sekali anggota masyarakat bisa bisa mendapatkan senjata api jenis pistol dengan hanya bermodal Rp. 30.000.000. Bukan tidak mungkin ada barang yang harganya jauh di bawah angka itu. Masyarakat yang ingin memiliki, baik sebagai barang koleksi maupun barang dagangan, dengan mudah mengakses ke pasar. Maka ramailah pasar senjata.

Dengan sistem dan prosedur kepemilikan yang makin longgar, pasar terbuka, pembeli banyak, maka apa yang terjadi di Desa Geneng, Kowangan-Temanggung bukanlah sesuatu yang aneh. Bahkan, mungkin masih banyak yang jumlah koleksinya melebihi itu. Kebetulan saja belum terungkap, tidak terungkap, atau memang susah diungkap. Sepanjang semua masih berjalan seperti sekarang, terutama masih adanya izin kepemilikan, maka pastilah ke depan masih banyak hal serupa terjadi.

Para pelaku pasar senjata api pastilah yang amat mengerti tentang akses pasar, spesifikasi senjata, harga di pasar gelap, ataupun terang sampai ke persoalan kepengurusan izin. Mereka yang menguasai pasar itulah yang pasti mampu meraup keuntungan dalam jumlah besar. Tetapi keuntungan itu tidak sepadan dengan risiko yang ditimbulkan akibat perdagangan tersebut. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa senjata itu hanya sebagai barang koleksi. Tidak ada yang bisa menjamin pula kemungkinan bahwa si kolektor telah melakukan teror pada orang-orang sekitarnya.

Kasus yang baru-baru ini mencuat mengenai penyalahgunaan senjata api adalah kasus dari Adiguna Sutowo, terdakwa pembunuhan Yohanes Brachman Haerudy Natong alias Rudy.Adiguna Sutowo telah tega menghilangkan nyawa seorang mahasiswa yang sedang bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya. Adiguna Sutowo membawa senjata api jenis revolver model Airlite S dan W kaliber 22 LR berisi empat butir peluru dan menyimpan 19 butir peluru tersebut, tidak mempunyai izin dari polisi. 'Senjata api yang dibawa terdakwa itu juga tidak terdaftar dalam data base kepemilikan senjata api non organik TNI/Polri pada Subdid Sendak Bidyamin Baintelkam Polri. Adiguna Sutowo menembakkan senjatannya setelah mengarahkan senjata api tersebut ke arah korban. Setelah itu, Adiguna Sutowo turun dari atas meja bar dan menyerahkan senjata api kepada Wenner Saferna. Adapun pembunuhan tersebut dilatarbelakangi setelah kartu kredit Adiguna Sutowo ditolak oleh korban dengan alasan over limit.

Tidak hanya itu saja aksi “main koboi” juga pernah dilakukan oleh slaah seorang pelawak yang merupakan salah satu grup dari patrio yakni Paro. Saat itu Parto yang membawa istri mudanya kesebuah acara di sebuah cafe, saat akan diwawancarai oleh wartawan, dengan reflek dia mencabut pistolnya dan menembakkannya ke udara. Aksi tersebut akhirnya membawanya menuju kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hal yang lebih berbahaya dari penyalahgunaan senjata api adalah dengan adanya kelalaian atau bahkan kesengajaan dari pemilik senjata api sehingga senjata yang dimilikinya jatuh ketangan orang lain yang tidak berhak dan digunakan untuk melakukan tindak pidana.

 

B. Rumusan Permasalahan 

  1. Apakah setiap orang bisa mengajukan permohonan kepemilikan senjata api ?
  2. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana pemilik senjata api legal dan pihak lain yang melakukan penyalahgunaan senjata api miliknya ?