Menu Lawskripsi

Terdapat 53 Tamu online

Chat dgn Lawskripsi

E-mail

PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN PENGGUNA PRODUK DENGAN PROMO HADIAH

A. Latar Belakang

Masalah perlindungan konsumen akhir-akhir ini mendapatkan sorotan tajam masyarakat. Berbagai masalah yang berkaitan dengan kepentingan konsumen menjadi polemik yang berkepanjangan, yang dalam penyelesaian kasus sering menemui jalan buntu atau merugikan konsumen. Hal ini disebabkan karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan dengan pelaku usaha. Ketidaktahuan serta ketidakberdayaan konsumen dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan tanpa memperhatikan konsumen.

Padahal salah satu hak konsumen adalah untuk mendapatkan produk yang kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan yang telah diperjanjikan oleh pelaku usaha, termasuk hadiah apabila pelaku usaha menawarkan hadiah bagi konsumen yang membeli produknya.

Menurut Umar Purba hal yang menjadi persoalan adalah diantara pelaku usaha sering terjadi persaingan tidak sehat. Pengusaha tertentu dalam kondisi ini kerap berpikiran pendek dan melakukan hal-hal yang merugikan konsumennya. Misalnya saja pelaku usaha telah mengiklankan untuk memberikan undian berhadiah bagi konsumennya akan tetapi pengundian tidak dilaksanakan.

 

Sebelum membahas mengenai penyalahgunaan undian berhadiah, terlebih dahulu akan diuraikan mengenai pengertian undian berhadiah. Undian sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menentukan pemenang secara acak. Jadi undian berhadiah dimaksudkan sebagai cara pemberian hadiah yang dilakukan secara acak.

Pada saat ini banyak cara digunakan pelaku usaha untuk menarik konsumen misalnya dengan menawarkan produk disertai undian berhadiah. Pelaku usaha menawarkan produk dan menjanjikan konsumen akan diberi hadiah dengan cara diundi. Konsumen diminta untuk membeli suatu produk dimana dengan pembelian tersebut ia berkesempatan untuk mendapatkan hadiah. Setelah konsumen membeli produk tersebut dan memenuhi persyaratan yang diminta oleh pelaku usaha, undian berhadiah tidak dilaksanakan oleh pelaku usaha. Pemberian hadiah dengan cara diundi ini memang dilaksanakan tentu akan sangat menguntungkan konsumen, namun beberapa pelaku usaha menawarkan undian berhadiah hanya sebagai cara untuk menarik konsumennya saja dan undian tersebut tidak pernah dilaksanakan. Dalam kasus ini kedudukan undian berhadiah dalam promosi adalah sebagai upaya yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk menarik minat beli konsumen. Hal tersebut tentu saja merugikan konsumen secara moral dan materiil.

Kasus penyalahgunaan undian berhadiah pernah terjadi pada akhir bulan Februari 2008. Seorang konsumen menulis dalam Media Konsumen di Website www.mediakonsumen.com bahwa dia telah mengikuti sebuah promo yang menyatakan adanya undian berhadiah, dimana kemudian ia baru menyadari bahwa undian tersebut hanyalah fiktif belaka. Untuk lebih jelasnya mengenai kasus tersebut akan dipaparkan sebagai berikut :


“Tgl 25 Januari 2008 saya berbelanja ke Mantos dan sekalian saya mampir ke sebuah toko yang merupakan suplier produk elektronik merekINEXTRON.Saya mengetahui tentang produk tersebut dari brosur iklan yang saya dapatkan dari suami saya beberapa hari sebelumnya. Karena memang membutuhkan air purifier saat itu saya putuskan untuk membeli produk tersebut disamping karena adanya promo di brosur iklan yang mengatakan adanya undian berhadiah mobil Xenia bagi para pembeli jika mengirimkan label stiker produk pada kardus produk beserta ketentuan lainnya. Saat melakukan transaksi pembelian saya menanyakan hal tersebut pada sales girlnya, tapi tidak ada jawaban yang pasti dari sales girl tesebut dan dia hanya mengatakan mungkin. Karena percaya brosur yang saya dapatkan sebelumnya, saya memutuskan untuk membeli produk tersebut. Beberapa hari kemudian saya mengirimkan stiker produk tersebut beserta identitas saya di alamat yang telah ditentukan. Akan tetapi sampai saat ini undian tersebut tidak juga dilaksanakan padahal menurut brosur iklan yang saya dapatkan, undian tersebut akan diundi pada tanggal 28 Maret 2008 di Indosiar jam 11 malam oleh Tantowi Yahya untuk memperebutkan 5 unit Mobil Xenia. Sampai saat ini tidak adalagi kabar beritanya dan pada tanggal yang dimaksud tidak ada pengundian hadiah seperti yang diberitahukan jadi saat ini saya sudah tidak mengharapkan akan terlaksananya undian tersebut karena saya baru menyadari kalau itu semua adalah fiktif. Yang saya harapkan adalah agar tidak ada lagi orang yang tertipu karena masalah ini.”

 

Berdasarkan kasus di atas, menunjukkan bahwa para pelaku usaha hanya memanfaatkan konsumen sebagai obyek aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besanya tetapi tidak mempertanggungjawabkan dampaknya terhadap konsumen. Hal tersebut merupakan bentuk penyalahgunaan undian berhadiah yang dilakukan oleh pelaku usaha. Kondisi seperti ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat kesadaran dan pendidikan hukum masyarakat Indonesia.

Dengan melihat kenyataan tersebut di atas, maka dengan adanya peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur hak-hak konsumen serta memuat kewajiban maupun tanggungjawab pelaku usaha, konsumen memiliki perlindungan hukum dengan tujuan untuk meningkatkan harkat kehidupan konsumen, menghindarkan konsumen dari perilaku pelaku usaha yang merugikan konsumen, meningkatkan tanggungjawab pelaku usaha dan mengembangkan dunia usaha yang sehat.

Realitas di atas dapat dicermati bersama bahwa dengan adanya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut dengan UUPK) maka pelaku usaha telah diberi batas-batas yang jelas dalam menawarkan suatu produk yang disertai denan undian berhadiah palsu, sehingga apabila pelaku usaha melakukan tindakan yang merugikan konsumen, dapat dituntut.

 

B. Permasalahan

  1. Bagaimana tanggung jawab pelaku usaha atas penyalahgunaan undian berhadiah dalam penjualan produk merek Inextron ?
  2. Bagaimanakah penyelesaian sengketa konsumen akibat penyalahgunaan undian berhadiah ?